Motivation Letter

 Motivation Letter 

       

    Nama saya Muhammad Fityan Al Farizi. Saya berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Saya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Cluster 62. 

    Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari diri saya. Saya hidup dengan keadaan yang cukup, bahkan lebih. Tidak banyak memang. Dari saya SD hingga masuk ke jenjang Universitas sekarang ini, kehidupan saya biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial. Tapi sebenarnya, "kebiasa-biasaan" itulah yang kadang membuat saya tidak percaya diri. Memang benar, saya tidak memiliki bakat atau skill khusus yang bisa saya banggakan atau saya pamerkan. Diri saya ini benar-benar biasa-biasa saja. Average kalau dalam bahasa inggrisnya. Dalam hal akademik, saya tidaklah pandai, namun juga tidak sebodoh itu. Bisa dibilang saya average dalam hal akademik. Tidak ada yang dibanggakan. Apalagi non-akademik yang kosong. Dari SD hingga SMA saya tidak pernah menjuarai lomba yang bisa saya banggakan. Saya sering ikut lomba bermacam-macam, dari olimpiade hingga lomba debat bahasa inggris. Tidak pernah sekalipun saya menang. Tidak pernah sekalipun saya pulang membawa piala dan piagam penghargaan juara. Tidak pernah saya membanggakan sekolah saya, mengharumkan nama sekolah saya dari kegiatan perlombaan. Paling jauh ya hanya lolos ke babak penyelisihan. Bukan hal yang bisa dibanggakan. 

    Rasa tidak percaya diri saya muncul. Saya sering merasa insecure dengan diri saya sendiri. Saya melihat teman satu perjuangan saya, teman satu klub saya, sering sekali memenangkan perlombaan yang saya juga ikuti. Di saat mereka maju ke podium untuk merayakan kemenangan, saya di bangku penonton hanya melihat perayaan mereka dengan perasaan melankolis. Saat mereka dipanggil waktu upacara bendera hari senin sebagai murid yang membanggakan sekolah, saya hanya bisa melihat di barisan siswa. Sering juga saya ditanya, "loh itu temenmu menang, kamu nggak ya? Bukannya kemarin kamu juga ikut lomba?". Jujur memang rasanya hancur harga diri saya. Rasanya sia-sia perjuangan saya. Tapi bagaimana lagi. Yang bisa saya lakukan hanyalah pasrah dan sadar diri bahwa saya memang tidak berbakat dibanding teman saya. Hal ini saya rasakan, terutama pada masa SMA, selama bertahun-tahun. 

    Tapi ada hal yang menjadi motivasi saya selama ini. Saya bukanlah orang yang religius. Saya muslim biasa. Namun saya memiliki satu patokan untuk tetap maju. Sebenarnya walaupun saya merasa insecure, anxious atau apapun itu, saya tidak pernah merasa ingin menyerah atau ingin berhenti untuk melangkah. Saya menganggap perasaan insecure yang saya alami hampir setiap harinya sebagai sesuatu yang wajar dan sesuatu yang menjadi kebiasaan. Perasaan insecure saya tidaklah membuat saya sedih atau stress, depresi, frustrasi dan lain-lain. Saya selalu berpikir, "Iya memang, saya orang biasa-biasa saja, tidak memiliki skill atau bakat. Yaudah lah, mau gimana lagi wkwk. Emang gini keadaannya. Bukan hal yang bisa bikin saya  berhenti juga.". Hinaan yang saya lempar ke diri saya sendiri adalah bentuk penyemangat bagi diri saya sendiri. Karena memang saya orangnya realistis. 

    Kembali ke topik, patokan yang saya maksud di sini adalah Tuhan. Maksudnya, atas segala hal yang terjadi atau segala hal yang saya miliki, saya percayakan bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Allah S.W.T sudah merencanakan sesuatu bagi saya. Kalau saya tidak pernah menang lomba, saya berpikir mungkin saya akan dibalas dengan hal yang berbeda. Kalau saya mendapat cobaan, mungkin saya telah melakukan hal yang buruk sehingga saya pantas mendapatkan cobaan tersebut. Kalau saya mendapat berkah, saya selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah S.W.T. Memang tidak spesial. Benar-benar normal, biasa saja. Tapi setidaknya dengan ini, saya tidak pernah menyerah dan merasa depresi.

    Selain itu, yang menjadikan saya tetap maju melangkah, adalah keluarga saya sendiri, terutama orang tua. Motivasi saya sekarang ini untuk tetap lanjut bersekolah, adalah untuk orang tua saya. Saya ingin setidaknya membanggakan orang tua saya, untuk meringankan beban orang tua saya, untuk tidak membuat cemas orang tua saya. 

    Namun kalau saya harus mengatakan sesuatu sebagai panduan atau motivasi bagi orang lain, hanya ada satu hal yang saya katakan, yaitu majulah. Memang, terkadang saat ada masalah, sulit untuk maju, sulit untuk move on, sulit untuk berpikir positif. Wajar kok. Memang seperti itu manusia. Kalau kalian mendapat masalah, atau merasa tidak percaya diri, itu hal wajar. Jangan ditolak mentah-mentah. Jangan paksakan stigma masyarakat, "Tidak boleh sedih, tidak boleh merasa rendah, harus tetap semangat, harus terus tersenyum.". Tidak. Kalian kalau memang lelah, kalau memang berada pada titik rendah di hidup kalian, boleh kok untuk istirahat. Kalian boleh menangis. Kalian boleh mengeluh. Kalian boleh curhat. Kita tidaklah sempurna. Kita memang lemah pada saatnya. Itu wajar. Jadi sekali-kali, kalau kalian merasa hidup kalian stagnan atau kalian menghadapi suatau masalah, hadapi dan terima saja. Berpikir realistis saja. Tidak apa-apa untuk merasa sedih. Tidak ada yang melarang. Keluarkan semua emosi kalian hingga kalian merasa nyaman dan enakan. Puas-puaskan diri kalian dengan mengeluh dan bersedih. Namun dengan satu catatan. Kalian tidak boleh terus menerus bersedih dalam waktu lama. Setelah puas, setelah enakan, kalian harus segera maju. Move on secepat mungkin. Selesaikan masalah kalian bagaimanapun caranya dan segeara move on. Memang tidak mudah, tapi tidak apa, manfaatkan waktu kalian. Jangan paksakan diri kalian untuk merasa kuat. Dengan catatan, kalian harus bisa refleksi diri, dan segera memerbaiki kesalahan yang kalian buat sebelumnya. Dengan itu, kalian bisa kembali bangkit dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

    Jadi kesimpulan saya, tetaplah maju. Tidak apa istirahat sebentar jika memang merasa lelah. Hibur diri kalian. Jangan paksa diri kalian terus menerus melakukan hal yang memberatkan kalian. Boleh kalian mengambil libur untuk beristirahat dan memulihkan diri kalian. Boleh kalian menangis dan berteriak sekencang mungkin untuk mengeluarkan semua emosi kalian. Boleh kalian curhat ke orang terdekat kalian. Karena memang diri kalian sendiri lah yang paling penting. Namun setelah itu, kalian harus bisa refleksi dan membenarkan diri. Kalian harus bisa move on, dan terus maju. Seimbangkan perjuangan kalian dan istirahat kalian. Kalian berhak mendapatkan hasil yang terbaik atas perjuangan kalian selama ini.

   Terima kasih, sekian dari saya.

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mental Health